Powered by Blogger.

Labels

Popular Posts

Tentang Saya

My Photo
nama asli hasil Hak Kekayaan Intelektual Orang Tua ku Yasin Sohib, kalau Ichiro Al Farazi si cuma nama pensil ku.. hehehe

Follower

Labels

Telusuri


RSS

Ekspedisi Dempo


Perjalanan dempo selama empat hari dari tanggal 5-8 April 2011. Perjalanan ini diikuti oleh 20 manusia tangguh, start dari Indralaya jam 17.05 WIB dan singgah di RM. Cambay Jaya pas jam berdetak 18.18. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Pagar Alam setelah rehat kurang lebih 20 Menit. Dalam suasana gelap dan mobil melaju dengan kencang tidak terasa sudah melintasi kabupaten “SMASH”(bukan boy band lhooo :P) alias Muara Enim. Rasanya sulit tidur dalam mobil yah namanya aja mobil umum coy.,.,mana sumpek en panas (wew). Dan sampai di Pagar Alam pukul 22.58 teng. Pas nyampe sekitaran Pabrik Teh suasana berubah drastis, karena dingin mulai maksa masuk ke tulang (brrr).
Mulai saat itu juga semua tangan beranjak mencari yang nama jaket. Setelah sampai, dimasjid langsung packing ulang jengjeng siap melancong ke Kampung IV. Medan yang kami lalui sangat ekstrim mulai dari tanjakan sampai jalan setapak yang sisi kirinya jurang (sedikit merinding juga, gelep siii). Tapi alhamdulillah semua personil lulus ujian pertama akibat kerja sama tim yang solid walaupun sedikit menges. Setelah melewati jalan setapak akhirnya ketemu juga tuh jalan aspal, dan kami dihadiahi pemandangan kebun teh yang luas terbentang di hadapan mata. Seneng2 lewat jalan aspal eh tiba-tiba aspalnya abis dilahap telan bumi, ya sudah tinggal jalan diatas bebatuan yang melingkar-lingkar menuju kampung IV. Diperjalanan ini kami ditemani bintang2 yang bertaburan di angkasa serta dapat penerangan gratis dari rembulan yang bersinar dengan riang seakan-akan senang dengan kehadiran kami. Dari kejauhan Gunung Dempo kelihatan gagah berdiri diatas bumi sriwijaya dan menjadi ikon dalam badge Kwarda Sum-Sel. Akhirnya setelah melewati perjalanan panjang sampai juga di Kampung IV sekaligus mampir ke Mushola untuk memanjakan diri yang lelah.
Tanpa terasa pagi telah menyambut jiwa-jiwa yang semangat yang siap mendaki. Mentaripun bersembunyi dibalik kabut yang masih enggan menampakkan wujud aslinya, dan warung sebelah sudah siap melayani para pelancong dengan nasi gorengnya yang khas yang siap ditemani kopi atau teh panas.
        Team yang berangkat pendakian ini terdiri dari 20 orang dikarenakan sesuatu dan lain hal maka yang berangkat berjumlah 19 orang :
M. Nara Firli (Musang Dempo), Ases Robetya (Rajawali), Hengki Purnando (Cobra), Abdul Suryani (Trenggiling), Andi Pratama (Mang Oemar), Hari Suhud (Soku), Muhammad Ridwan (Ulat Bulu), Nopi Hartani (Belut Listrik), Prayudi NS (Blue), Charis (Kadal Cuplek), Galih Susanto (Obel), Yasin Sohib (Katek), Dedek Oktarina (Dolphin), Riki Himawan Putra (Junior), Yovi Renaldo (Kukang), Fitriany (Lenjeh), Ira Novianti (Mbarep), Puspita Selviani (FW), Risma Oktaria (CR).
        Dalam perjalanan menuju Dempo start jam 09.02 melewati lauatan kebun teh yang amat luas yang masih dibaluti kabut, perjalanan menuju puncak dempo sama halnya jalanan menuju kampung empat yang dihiasi batu koral yang siap melahap korban saat sidia lalai. Perjalanan terasa sedikit melelahkan, karena naik turun serta berkelok2. Setelah 2 jam berlalu akhirnya sampai juga di Pintu Rimba, istirahat sejenak sambil meluruskankan kaki. Di pintu rimba lama tertulis “Bukan gunung yang kita taklukan tapi diri kita sendiri” (Luar biasa bukan). Saat pendakian dimulai diiringi hujan gerimis yang menemani serta matahari terus mengintip dari balik dedaunan. Tracking dari Pintu Rimba menuju Shelter 1 tergolong sedang, tapi akibat diiringi gerimis terasa amat penat karena tubuh diselimuti dingin yang siap menguras tenaga. Dengan tubuh yang kedinginan dan segumpal semangat akhirnya sampai juga di Shelter 1 pukul 12.25 WIB. Di Shelter 1 ini kami manfaatkan untuk isi ulang air minum yang tinggal beberapa tetes sambil mengunyah coklat untuk menyuplai energi. Setelah semua siap, pukul 12.40 kamipun bergegas menuju Dinding Lemari.
        Dengan semangat perjuangan menaklukan diri sendiri jiwa ini tertantang untuk melawan medan yang licin, alhamdulillah sendal swallowku setia menemani perjalanan yang sangat menguji ketahanan sendal.  Medan menuju dinding lemari sangat menantang karena banyak tanjakan serta ditemani suara halus produksi mas kadal kuplek yang membuat hidung sedikit sesak serta rasanya mau terbang saat menghirup asap knalpot. Dengan kondisi yang lelah akhirnya sampai di dinding lemari pukul 13.45.
        Lagi dan lagi dingin semakin memeluk diriku yang kecil ini, setelah beristirahat langsung capcus menuju shelter 2. Perjalanannya sama, setelah sekian lama berjalan akhirnya sampai juga di Shelter 2. Sampai dishelter 2 langsung disambut aroma nasi telor dadar dan sambel pedes ala warung samping mushola. Dengan lahapnya nasi pindah tempat dalam hitungan detik saja. Setelah makan, buat api kecil2-an buat menghangatkan tubuh. Karena tidak ada kayu kering terpaksa slayer yang dibakar..hahaha.. semua sudah kenyang semua senang lanjut ke rute selanjutnya yaitu menuju cadas.
        Setelah makan dan istirahat ternyata kakiku rasanya enggan untuk bergerak padahal rute yang ditempuh masih panjang. Untung saja ada Belut Listrik yang siap menemaniku, kami berdua adalah manusia terakhir. Semakin lama rasanya semakin sakit dan sulit menggerakkan kakiku, tapi berkat support dari Mr. Belut Listrik dan gelora dalam jiwa akhirnya sampai juga di Cadas. Ternyata di Cadas ada Mas Kuplek yang menungguku.
        Pas di Cadas rasanya semakin bandel kakiku untuk diajak melangkah, hampir saja aku mau nyerah dan tiba-tiba ada sesosok insan yang berkata : “ galak mati beku disini???” wah hatiku langsung berontak dan kata2 itu selau terngiang2 dikepalaku. Dengan susah payah aku melangkah meninggalkan cadas dengan mas Kuplek dan sampai juga di TOP Dempo dengan ketinggian 3159 Mdpl. Setelah itu langsung menuruni lembah dan aku langsung teriak dengan keras sambil memainkan cahaya senter, dan nyampe deh dibase camp.
        Saat jam 5 pagi Termometer menunjukkan angka 2 derajat Celcius, wow Ekstrim. Mentari muncul langsung masak mie dan energen untuk menemani pagi yang dingin dan perut yang kracak-krucuk (Laper maksudnya :D). Setelah itu menjemur semua pakaian yang basah dan mengabadikan suasana di lembah. Biarpun mentari telah naik tapi kalau ada angin berlari rasanya masih dingin juga. Jam 09.30 menuju kawah dan alhamdulillah kawahnya terbuka. Dan ada satu hal yang menarik yaitu k’ yudi nembak puput syukur diterima ( cz klw gx diterima k’yudi mau lompat ke kawah...hahaha –JQ ). Semua senang, dan semua tinggal kenangan tepat pukul 12.25 kamipun meninggalkan lembah yang mengukir banyak kenangan.

Tunggu Perjalanan selanjutnya...

# LPJ Dempo siap Di Download


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 comments:

Ases Robetya said...

Mantapz...

Rajin" NuLiz LPJ/Catatan Untuk Kisah-kisahmu...

Mungkin Saat Ini Hanya Sebuah TuLisan Yang Tak Bermakna, Tp YakinLah Suatu Saat TuLisan Ini Akan Sangat Dirimu Rindukan...

Dan Di Saat Dirimu Menceritakan Kisah Ini Pada Anak Cucumu, Mungkin Orang-Orang Yang Ada Di Kisah Ini Sudah Pergi Atau MenghiLang DaLam Keheningan MaLam...

KeLak Dirimu Akan Merasakan Bahwa SepenggaL Kisah Ini Menjadi Sangat Berarti Di Bagian Hatimu Yang Lain...

Keep Spirit Anak ALam..

Post a Comment